Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, 20 March 2011

Drama Gong

3 comments

Masyarakat Bali cukup berbangga hati. Karena kesenian Tradisional Bali hingga saat ini masih bertahan dengan kokohnya di tengah derasnya gerusan Budaya asing dan tekhnologi yang masuk dan di adaptasi di Indonesia. Seni Tari Tradisionil, Bondres, Arja, Drama Gong , lagu-lagu Bali dan lain-lain masih menjadi primadona tontonan masyarakat Bali.

Bahkan khusus untuk Drama Gong, setiap kali digelar pada acara tahunan Pesta Kesenian Bali selalu mendapat perhatian khusus dengan jumlah penonton yang membludak. Pernah ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa satu-satunya acara TVRI Bali yang bisa mengalahkan Film “Mission Imposible” adalah Drama Gong. Jadi, meskipun acara TV swasta lainnya sebagus apapun, saat Drama Gong diputar di TVRI Bali, hampir semua masyarakat Bali pindah Channel untuk melihat Drama Gong.

Drama Gong yang diciptakan pada tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar) ini sebenarnya merupakan seni kesenian tradisional Bali yang mencampurkan unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali) seperti Sendratari, Arja, Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon diiringi oleh Gong Kebyar.

Pada awalnya Drama Gong dinamakan "drama klasik" namun dalam perkembangannya oleh I Gusti Bagus Nyoman Panji kemudian diberi nama Drama Gong disesuaikan dengan dua unsur baku yang diusungnya (drama dan gamelan gong.

Cerita Drama Gong terutama diambil dari cerita Panji. Cerita-cerita ini menceritakan tentang cobaan dan kesusahan seorang pangeran atau putri yang berlangsung di beberapa kerajaan Jawa kuno seperti Koripan, Daha, dan Singosari. Lakon-lakon paling popular drama gong saat ini adalah :

  • Raja manis
  • Raja buduh
  • Putri manis
  • Putri buduh
  • Raja tua
  • Permaisuri
  • Patih keras
  • Patih tua
  • Dua pasang punakawan (sering diperankan oleh Petruk, Lolak dan lain-lain.

Tidak seperti wayang, Bondres, topeng dan Arja yang menggunakan Bali Klasik, Drama Gong lebih flexible dengan kostum Bali modern yang bervariasi berdasarkan jenis kelamin dan status sosial karakter. Wanita mengenakan sarung, blus tradisional dan selempang.

Ratu memakai emas dan bunga segar di rambutnya sedang pemeran Pria memakai sarung, hiasan kepala dan sebuah keris. Raja atau pangeran mengenakan sarung emas, hiasan kepala emas dan keris emas. Badut memakai sarung hitam, ikat pinggang kotak-kotak dan topi batik.

Drama Gong adalah hiburan murni. Berlangsung selama sekitar 5 sampai 6 jam, dialog Drama Gong adalah lelucon Bali. Drama Gong juga berisi ajaran agama dan filosofis, di mana perjuangan yang tak pernah berakhir kebajikan melawan kejahatan. Drama Gong juga mendorong berpikir kritis, sebagai lelucon terutama pada isu-isu sosial dan politik baru-baru ini, kelemahan manusia.

Selain sering dipentaskan dalam berbagai acara adat di Banjar maupun dalam upacara adat lainnya, seperti halnya ketoprak maupun drama kesenian tradisional lainnya di Indonesia yang dipentaskan secara komersil, dalam berbagai kesempatan Drama Gong juga dipentaskan untuk pertunjukan komersil.

Bahkan saat ini Drama Gong menjadi acara tetap di stasiun local Bali. Saat ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama Gong yang masih aktif. Yaitu, Drama Gong Bintang Bali Timur, Drama Gong Duta Budaya Bali, Drama Gong Dewan Kesenian, Drama Gong Dwipa Sancaya.
read more "Drama Gong"

Tuesday, 18 January 2011

5 Hidden Treasure of Bali : Fakta Unik Tentang Bali

12 comments
5 Hidden Treasure of Bali : Fakta Unik Tentang Bali
Bali yang terkenal sebagai Pulau Dewata memang mempunyai berbagai macam keunikan, selain pemandangan dan adat istiadat yang unik juga masyarakat Bali selalu percaya dengan apa yang mereka yakini. Meski kadang masyarakat menganggap sebagai hal-hal aneh, namun justru karena kepercayaan yang kuat dan tak mudah luntur oleh derasnya perkembangan jaman itulah yang membuat Bali menjadi unik.

1. Wanita Bali pada umumnya sangat setia pada pasangannya termasuk ketika ia harus berpindah agama sekalipun mengikuti keyakinan suaminya. Ini karena sistem paternalistik yang sangat kuat. Ketika memutuskan untuk menikah, wanita Bali sudah terikat dengan suaminya dan kewajiban orang tua maupun haknya sebagai anak di dalam keluarga telah lepas. Sepenuhnya ia menjadi tanggung jawab suami dan keluarga suaminya. Oleh karena itu wanita Bali beranggapan bahwa mengabdi pada suami adalah surganya.

2. Penduduk Bali jarang ada yang melakukan kejahatan seperti mencuri, merampok, mencopet dan sebagainya. Karena menurut mereka, melakukan kejahatan seperti itu sama saja dengan menjahati rumah sendiri, keluarga sendiri dan diri sendiri. Adanya hukum karmapala dan kepercayaan tentang reinkarnasi (kehidupan yang abadi setelah mati) membuat mereka akan berpikir 1000 kali untuk melakukan kejahatan terutama di lingkungan sendiri.

3. Di Bali kasus perceraian dan poligami sangat rendah. Ini karena mereka harus melalui serangkaian upacara yang cukup rumit bila harus melakukan perceraian. Sama saja ketika seseorang harus menikah lagi.Karena upacara pernikahan menurut agama Hindu merupakan upacara keagamaan yang cukup besar, rumit dan melibatkan semua keluarga, kerabat dan lingkungan. Keluarga besar jarang ada yang mau menggelar pesta pernikahan di keluarga untuk yang kedua kalinya untuk satu orang mempelai yang sebelumnya telah pernah menikah. Bagi mereka itu adalah peristiwa yang memalukan.

4. Sistem kasta (sudra, waisya, ksatria, brahmana) di Bali saat ini dipandang lebih kepada besar kecilnya peran dan fungsi seseorang pada pekerjaan atau pengabdiannya kepada orang banyak. Meskipun ia datang dari kasta paling rendah atau Sudra, tetapi jika dia bisa menjadi pemimpin yang baik di masyarakat maka kastanya akan terangkat dan lebih dipandang daripada kasta yang lebih tinggi namun tidak punya peran apa-apa. Kasta sudah tidak lagi menentukan kelas sosial secara kultural, tetapi lebih kepada penyesuaian struktural.

5. Hampir setiap halaman rumah orang Bali selalu ada pohon Kamboja dan berbagai macam bunga lainnya, karena kamboja adalah tanaman khas orang Bali, bunga kamboja dan bunga lainnya merupakan salah satu perangkat yang harus ada pada ritual keagamaan saat mereka melakukan sembahyang selain unsur air dan api.


Beberapa point diambil dari sumber http://berita.balihita.com
read more "5 Hidden Treasure of Bali : Fakta Unik Tentang Bali"

Saturday, 2 October 2010

Nasi Campur Warung Wardani

10 comments
Nasi Campur Warung Wardani

When you visit Bali but was afraid to look for halal food, may be Nasi Campur Wardani could be your choice. Balinese mixed rice stall is located in downtown Denpasar. So it's not difficult to reach.

It was very tasty, especially the satay and satay cow wrap. Wardani stalls still use traditional ways of cooking using firewood. That's what causes a very distinctive flavor. They are open from 7:00 AM till 2:00 PM. It's known, they are crowded enough buyers. Especially by foreign tourists.

Nasi Campur Wardani Warung is very famous until very well-known to other countries, The Indonesian celebrities and other countries never miss a chance opportunity to enjoy a meal there.

Nasi Campur Warung Wardani

Warung Wardani’s nasi campur is of the halal version and does not feature pork. Instead, the accompanying dishes are sate lilit (fish satay), sate sapi (beef satay), sayur nangka (young jackfruit stewed in coconut milk), sayur kacang panjang (long beans), telur pindang (boiled egg), dendeng sapi (beef jerky), ayam suwir pedas (spicy chicken with chilli & lime) and some rempeyek udang (crispy deep fried prawns).

You can be enjoyed with a price RP. 30,000/serving. It is rather expensive for the size of rice mix. But you need not fear, for sure you will be satisfied because the delicacy of taste.

Warung Wardani
Jl. Yudistira, No: 2,
Denpasar,
Bali.
Tel: 0361 224 398
read more "Nasi Campur Warung Wardani"

Sunday, 1 August 2010

Agnes Monica Sindir Sherina di Malam Final Igo vs Citra Indonesian Idol

30 comments
Agnes Monica Sindir Sherina di Malam Final Igo vs Citra Indonesian Idol

Siapa yang tak kenal Agnes Monica sebagai juri di Indonesian Idol 2010. Kiprahnya sebagai penyanyi Indonesia yang punya segudang obsesi untuk bisa go Internasional membuatnya dipercaya untuk menjadi juri Indonesian Idol tahun ini.

Namun pada malam final Indonesian Idol 2010, Agnes melalukan sedikit keseleo lidah dan pikiran saat ucapannya menyindir Sherina.

Pada saat itu ia sedang mengomentari penampilan Citra yang malam itu tampil sangat sempurna. Sesaat setelah Citra usai menyanyikan lagu berjudul “Pergilah Kau” yang merupakan lagu ciptaan mantan pacar Raditya Dika itu.

Dengan nada bergurau namun sinis Agnes berkata, “Citra, saya suka kamu selalu percaya diri dengan cara kamu menyanyikan lagu, jadi nyanyi lagu secupu apapun jatuhnya enak di kamu, ya mas Erwin ya?“, kata Agnes sembari menengok ke arah Erwin Gutawa yang juga sebagai dewan juri. Sayangnya, Erwin Gutawa diam dan tidak menanggapi komentar Agnes yang bernada sinis tersebut.

Namun karena melihat reaksi Erwin Gutawa yang diam, Agnespun buru-buru meralat, bahwa lagunya bagus dan penampilan Citra malam itu juga sangat sempurna.

Setelah itu giliran Armand Maulana sebagai juri tamu menanggapi penampilan Citra Indonesian Idol malam itu seraya menimpali pernyataan Agnes Monica, “Saya suka kamu nyanyi Citra, tak memaksakan untuk bernyanyi sambil berteriak!!“, kata suami Dewi Gita tersebut yang berkomentar atas penampilan Citra sebagai sindiran terhadap Agnes Monica yang sering nyanyi sambil berteriak.

Sebagai seorang penyanyi yang menunjukkan kualitasnya serta banyak penggemarnya seharusnya Agnes Monica tak perlu melakukan hal itu, karena tanpa melakukan hal itupun orang sudah tahu kalau ia adalah penyanyi yang sangat berkualitas baik dari segi penampilan maupun suaranya, apalagi baik Agnes Monica maupun Sherina sama-sama mantan penyanyi cilik. Mereka mengawali kariernya di dunia tarik suara ketika usia mereka masih sangat muda.

Apakah mungkin Agnes Monica merasa tersaingin oleh kepopuleran Sherina. Ataukah ini dimaksudkan untuk menjaga popularitasnya yang tidak se cemerlang dulu lagi?

Masing-masing bisa dinilai untuk langkah nyata menciptakan karya nyata selanjutnya. Saya penggemar Sherina dan Agnes Monica, rasanya senang mereka sebagai insane muda bisa berkiprah di dunia seni dengan gaya mereka sendiri.

Yang pasti penampilan Citra Indonesian Idol 2010 di Malam Final Indonesian Idol 2010 sangat sempurna, tak kalah dengan pesaingnya Igo.


Citra Indonesian Idol
Vote buat Citra yah…Idol banget gitu loh
read more "Agnes Monica Sindir Sherina di Malam Final Igo vs Citra Indonesian Idol"

Monday, 26 July 2010

Pariwisata Bali tak Ramah Pada Wisatawan Dalam Negeri?

14 comments
Pariwisata Bali tak Ramah Pada Wisatawan Dalam Negeri?
Saya sering banget mendengar keluhan dari teman-teman daerah lain bahwa acapkali mereka datang ke Bali mereka justru mendapat perlakuan yang kurang ramah dari pelaku Pariwisata di Bali. Baik itu petugas Bandara Ngurah Rai, sopir Taxi maupun dari art shop yang menjual pernak pernik khas Bali.

Hal ini terasa sekali ketika memasuki kawasan Pariwisata Bali di daerah Kuta, Sanur dan Nusa Dua. Toko-toko penjaja souvenir sering memasang muka masam dan melayani secara ogah-ogahan bila yang belanja turis lokal. Bahkan seringkali mereka mendiamkan atau ditinggal pergi begitu ada turis manca Negara yang memasuki tokonya.

Entah apa yang menjadi penyebabnya, tapi yang jelas perlakuan itu jauh berbeda dengan perlakuan kepada turis mancanegara. Seakan-akan bila turis mancanegara yang datang di sambut bak tamu agung yang bakalan mendatangkan keuntungan.

Saya pernah melihat tayangan di sebuah stasiun televise swasta dalam program “Jelajah” episode ke Bali. Pembawa acaranya keluar dari sebuah toko kaos surfing di daerah Kuta dengan mengatakan “ penjaganya judes!”

Begitu juga ketika ia menyusuri sepanjang jalan di Kuta, menurutnya tak satupun penjaga toko yang mau memperhatikan kalo pembelinya adalah turis lokal.


Pariwisata Bali tak Ramah Pada Wisatawan Dalam Negeri?

Kenapa ya?

Apakah memang menurut mereka turis lokal itu lebih menyebalkan ketimbang turis asing? Kalo menawar gak tanggung-tanggung? Kalo belanja lebih sedikit? Gak pernah kasih uang tips? Ataukah memang turis lokal lebih cerewet ketimbang turis manca Negara?

Saya punya paman seorang musisi Reggae yang kerap tampil di café-café di Bali. Menurutnya, bila turis lokal masuk ke kafe, sikapnya kadang suka kampungan. Rame-rame ketawa ketawa, sok borju tapi beli minum 1 gelas untuk berlima.

Anggapan miring seperti itulah yang kadang kerap memberi kesan seolah-olah Pariwisata Bali tak ramah kepada Wisatawan dalam negeri.

Padahal jika dipikir-pikir, wisatawan dalam negeri potensinya sangat besar. Bayangkan saja, ketika pasca Bom Bali tahun 2004 lalu. Pariwisata Bali begitu terpuruk. Hampir semua hunian hotel di Bali tak lebih dari 10 % bahkan kurang. Banyak Art Shop yang gulung tikar. Turis manca Negara tak ada yang berani ke Bali.

Satu-satunya penolong Pariwisata Bali adalah turis lokal. Selain mereka merasa murah berwisata ke Bali, juga mereka masih merasa nyaman datang ke Bali. Mereka juga tak ada travel warning di negerinya sendiri.

Seandainya pelaku Pariwisata Bali lebih sadar untuk memanfaatkan potensi Wisatawan dalam negeri yang jumlahnya bisa lebih banyak, maka dalam keadaan apapun Pariwisata Bali akan tetap kokoh berdiri.

Meski upaya mendatangkan devisa dari wisatawan mancanegara dengan promosi yang gencar tetapi jangan dilupakan juga untuk tetap memperhatikan potensi wisatawan lokal. Caranya, ya tentu saja dengan memperlakukan Wisatawan Dalam Negeri sama ramahnya seperti kita memperlakukan Wisatawan Asing.

Anda pernah ke Bali dan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Pelaku Pariwisata Bali?

Semoga hal itu tidak lantas menyurutkan niat anda untuk tetap datang ke Bali dan menikmati keindahan alam dan budayanya. Karena pesona Bali pasti tak akan terlupakan terutama gadis Bali yang bernama ITIK Bali :D
read more "Pariwisata Bali tak Ramah Pada Wisatawan Dalam Negeri?"

Wednesday, 12 May 2010

Nanoe Biroe : Presiden yang memecahkan Rekor menyanyi Terlama

10 comments

Kalo ada kontes pemilihan presiden paling funky seluruh dunia pasti yang terpilih adalah Nanoe Biroe.

The President of Beduda, begitulah sebutannya. Pria berdarah asli Bali yang menyandang nama : I Made Mudita ini baru saja mengukir Prestasi sebagai pemecah Rekor MURI sebagai penyanyi yang menyanyikan lagi terlama selama 80 jam.


Disaksikan oleh Rakyat Beduda yang merupakan penggemar fanatik Nanoe Biroe serta didampingi oleh istri tercintanya, pria berusia 27 tahun itu selama 3 hari di lapangan Puputan Denpasara ia menyanyikan tak kurang dari 1100 lagu. Mulai lagu-lagu yang berasal dari albumnya yang sangat popular di Bali, sampai lagu Rock dan Pop yang ngetop.

Aksi yang dimulai sejak pukul 15.00 wita hari Jum’at tanggal 7 Mei 2010 itu tak henti-hentinya mendapatkan support dari penggemar fanatiknya. Sang Presiden nyentrik itu melantunkan lagu-lagu yang enak didengar. Dengan lagu penutup Indonesia Pusaka, tepat pada pukul 04.43 wita akhirnya Rekor MURI sebagai penyanyi yang pernah menyanyi terlama di Indonesiapun diserahkan kepadanya oleh Manajer Operasional MURI, Paulus Pangka.

Nanoe Biru telah berhasil mengalahkan Rekor sebelumnya yang dipecahkan oleh musisi asal Bandung yang bermain musik selama 70 jam.

Pria berambut gimbal ini, sangat dikenal masyarakat Bali sebagai penyanyi beraliran Rock. Lagu-lagunya yang atraktif serta penampilannya yang nyentrik, membuat ia semakin unik diantara penyanyi pop Bali lainnya yang semakin marak bermunculan.

Lagu-lagunya banyak melontarkan kritik masalah sosial seperti B*ngs*t teroris dan lain-lain. Saya sendiri banyak punya koleksi lagu-lagunya.

Dengan suara khasnya, pria Bali bertampang seram namun berhati lembut ini telah mengharumkan nama Bali di kancah Nasional.

Semoga suatu saat ia bisa eksis tak hanya di Bali, tapi di Blantika musik Nasional bahkan Internasional.


Go go Nanoe Biroe..Go go..The President of Beduda




read more "Nanoe Biroe : Presiden yang memecahkan Rekor menyanyi Terlama"

Monday, 3 May 2010

Kemana si Jalak Bali?

20 comments
Ini suatu pertanyaan beneran, bukan pernyataan dan gak mengada-ada.

Kemarin, hari minggu saya pulang kampung ke rumah nenek saya di Jembrana. Hari itu adalah hari otonan saya (Hari Ulang Tahun menurut kalender Bali) jadi ada sedikit upacara kecil yang biasa dilakukan nenek untuk cucu-cucunya.


Sepanjang perjalanan di daerah Yeh Embang Jembrana, ada pemandangan yang sangat bagus dimana di tengah tengah sawah banyak burung-burung beterbangan. Burung itu berbulu warna putih, kaki yang langsing, paruh kuning dan badannya tak terlalu besar.


Kemudian saya bertanya ke Ibu yang ada dibelakang boncengan motor saya.

“ Burung apa itu Bu?”


“ Oh itu Jalak Bali!” Kemudian dengan gaya sok tehu Ibu mulai menjelaskan, “ Jalak Bali itu adalah burung yang dilindungi karena hampir punah, banyak yang memburu karena harganya mahal dan diperdagangkan secara liar.”


Penjelasannya sih bener, tapi jenis burungnya yang salah. Barulah saya tahu, darimana sifat Sok Tahu saya ini menurun.


Hari gini?? Mana ada Jalak Bali berkeliaran bebas di luaran? Belum sampe sejam sudah habis disikat sama manusia-manusia tak bertanggung jawab dong!!
Saat ini, Jalak Bali masih ada di Cekik Taman Nasional Bali Barat di Jembrana (dekat Daerah Gilimanuk), meski jumlahnya tinggal beberapa ekor saja sih.

Saya sendiri belum pernah kesana dan belum pernah melihatnya.


Kabarnya, pada tahun 1999, sebanyak 39 ekor Jalak Bali yang berada di pusat penangkaran di Taman Nasional Bali Barat ini pernah di rampok. Padahal penangkaran ini bertujuan untuk melepasliarkan satwa yang terancam kepunahan ini ke alam bebas.


Jalak Bali atau Leucopsar rothschildi ditemukan oleh Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung berkebangsaan Inggeris pada tanggal 24 Maret 1911 ini sangatlah mudah dikenali dengan ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Jalak Bali memiliki pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Antara burung jantan dan betina serupa.


Untuk menghindari kepunahan, Pemda Bali sendiri telah melakukan upaya dengan mendirikan pusat penangkaran yang salah satunya berada di Buleleng, Bali sejak 1995.


Hmmmm….
Semoga saja Maskot Bali yang cantik ini tetap lestari, dan sampai kapanpun bisa dilihat bebas beterbangan di alam. Bukan dilihat dengan ironis sedang berada dalam kerangkeng-kerangkeng besi.



read more "Kemana si Jalak Bali?"

Wednesday, 28 April 2010

Tak lulus UN bukanlah Kiamat Dunia

12 comments

Lagi-lagi tentang hasil UAN, perih dan prihatin.

Tahun ini angka kelulusan menurun drastis dibanding tahun lalu. Bahkan di NTT angka kelulusan menurun melebihi 40 persen.

Satu sekolah tidak lulus semua siswanya, menangis dan kecewa. Siapa yang dipersalahkan? Siswa, guru atau System?

Kenapa ya, begitu sulitnya mencari kata LULUS di tengah situasi yang kian sulit ini? Banyak siswa yang protes, orang tua bahkan pendidik sendiri sangat tidak setuju dengan adanya UAN ini.

Menurut mereka, fasilitas dan kemampuan di masing-masing daerah tidak sama. Padahal standar yang diterapkan sama. Dengan alih-alih meningkatkan mutu Pendidikan, Pemerintah seakan menutup mata dan telinga terhadap sebagian suara rakyat yang menyerukan keberatan ini.

Siswa di Daerah terpencil harus ekstra effort untuk memperoleh standar kelulusan.
Duh sulitnya ya…

Padahal setelah lulus mereka juga belum tahu mau jadi apa dan mau kenapa. Lalu kenapa harus di persulit?

Mungkin saya termasuk orang yang sama sekali tidak setuju dengan system ini. Bukan karena alesan saya males atau takut tidak lulus. Tapi rasanya ini sangat tidak adil saja. Tidak adil buat mereka yang pintar selama 3 tahun tapi tak lulus karena ujian beberapa hari

Kalau sampai ada siswa yang mati bunuh diri akibat tidak lulus, seperti yang terjadi pada Wahyu Ningsih (19), siswi sebuah SMKN di Muaro Jambi yang kemarin tewas menelan racun jamur tanaman ternyata peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, apakah pemerintah tak juga menurunkan harga matinya untuk mendapat kelulusan?

Mau jadi apa hidup ini? Ujian Nasional bukanlah segala-galanya. Tak lulus bukan berarti dunia kiamat. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi.

This is a life…



read more "Tak lulus UN bukanlah Kiamat Dunia"

Tuesday, 20 April 2010

Sandy Wedhus bukanlah Wedhus berwujud Balita

17 comments
Sejak dulu saya paling gak suka melihat anak kecil yang :

1. Tingkah lakunya suka meniru orang Dewasa baik dari cara bicaranya maupun lagaknya.

2. Anak perempuan kecil berdandan atau di dandani mirip orang Dewasa dalam keadaan sehar-hari (bukan saat pentas atau di panggung) seperti pakai bedak tebal, lipstick menor atau blush on yang belepotan.

3. Anak kecil yang bertingkah gak sopan terhadap orang yang lebih dewasa tapi malah diketawain oleh sekitarnya karena dianggap lucu atau dibuat lucu-lucuan.



Pengin rasanya saya nabok atau jitak saja, tapi kalo saya lakukan begitu bisa-bisa saya dilaporkan ke KOMNAS Perlindungan Anak dong.

Atau mungkin lebih baik saya tabok orang di sekitarnya yang membuat dia seperti itu aja ya?

Menurut saya, orang yang membuat dan menginginkan anak kecil bertingkah seperti layaknya orang dewasa sebagai bahan lelucon adalah orang yang sama sekali gak pernah dewasa dalam hidupnya.



Adalah seorang bocah berusia 3 tahunan bernama Sandy Maulana atau saat ini lebih dikenal dengan nama Sandy Wedhus yang bertingkah laku layaknya orang dewasa atau mungkin melebihi sikap orang dewasa. Merokok, minum kopi, minum-minuman keras dan berkata-kata kotor.

Mungkin Sandy sendiri gak menyadari kalau tingkah lakunya itu sangat tidak pantas dilakukan, mungkin juga dia tak mengerti arti kata-kata yang dikeluarkan bahkan dia belum mengerti bahayanya merokok dan menegak minuman keras bagi kesehatan dan perkembangan psikologisnya kelak. Ketika orang di sekitarnya menganggapnya lucu dan menggelengkan kepala, ia merasa gagah, merasa hebat dan merasa tidak dianggap sebagai anak kecil.


Menurut berita di sebuah surat kabar, Sandy itu jarang bergaul dengan dengan teman sebayanya. Pergaulannya lebih sering dengan orang dewasa yang notabene preman-preman tempatnya “berguru” selama ini.

Sementara kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya. Praktis “pengasuhnya” lebih banyak preman-preman tersebut.

Dikatakan bahwa, meski kelihatannya begitu, orang-orang di sekitarnya sayang dengan Sandy, mereka sering menceboki Sandy (haaahh?? Usia 3 tahun belum bisa cebok??), memandikannya, memberinya makan (sekaligus kopi, rokok dan minuman keras).

Menyayangi itu namanya ya? Setahu saya sayang itu adalah memelihara, membuatnya jadi baik dan bukan merusaknya atau menjadikan bahan tertawaan.

Siapa yang salah? Siapa yang paling bertanggung jawab?

Yah pertama orang tuanya dong. Kedua lingkungan sekitarnya, yang lainnya ya kita-kita yang malah justru tertawa melihat tingkah laku Sandy yang menurutnya lucu padahal TIDAK SAMA SEKALI

Namun Tuhan Maha Adil, ternyata memang masih ada yang benar-benar sayang padanya dan peduli dengan masa depan anak Sandy.


Saat ini Sandy sedang menjalani perawatan di RS dr. Syaiful Anwar, Malang.

Dia diisolasikan selama beberapa waktu terhadap segala macam lingkungannya.

Seperti di brainwash begitu. Agar ia kembali normal dan bertingkah laku seperti anak-anak seusianya.

Sandy bukanlah satu-satunya Balita yang bertingkah seperti orang dewasa. Masih banyak Sandy-Sandy lain yang tersebar.


Saatnya orang tua dan lingkungan bertindak. Kasihan masa depan mereka bila tak segera di tolong.




read more "Sandy Wedhus bukanlah Wedhus berwujud Balita"

Friday, 26 March 2010

Atas Nama Ujian Nasional

14 comments

Ujian Nasional (UN) telah dilaksanakan. Meski sebelumnya banyak pro dan kontra soal Ujian Nasional ini, akhirnya tetap saja dilangsungkan.

Bagi sebagian besar siswa (termasuk saya), Ujian Nasional dianggap sebagai momok yang menakutkan. Bayangkan saja, 3 tahun belajar dengan susah payah dengan berbagai macam pelajaran tapi penentuan kelulusan hanya berlangsung seminggu dengan hanya 5 mata pelajaran saja.

Banyak siswa menjerit menyuarakan hati. Terutama yang merasa bersekolah di daerah pedalaman atau daerah yang minim fasilitas pendidikan. Standart kelulusan yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tetap sama.

Yaitu pencapaian kelulusan harus minimal angka 5,5. Sama dengan sekolah yang berada di Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan kota-kota besar lainnya yang notabene segala fasilitas dan bimbingan belajar tersedia lengkap.

Ujian Nasional ibarat pisau bermata dua, disatu sisi, pemerintah ingin meningkatkan mutu pendidikan seluruh siswa di Indonesia dan membuktikan bahwa Siswa di daerah terpencilpun juga mampu dan mempunyai daya saing yang tak kalah dengan siswa di kota besar.

Namun di satu sisi, menyebabkan siswa atau bahkan pihak sekolah yang membantu untuk kadang menempuh jalur pintas dengan melakukakan kecurangan agar lulus dengan cara apapun.
Menurut pendapat saya, bila pemerintah telah berani menetapkan standart kelulusan yang sama di seluruh tanah air seharusnya pemerintah juga berani menerapkan ketersediaan fasilitas yang sama di seluruh sekolah di Indonesia.

Pertanyaannya : Kenapa sih harus dengan Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan? Apa tidak cukup dengan Ujian Sekolah dengan standart yang diterapkan oleh sekolah masing-masing. Bukankah setiap siswa yang lulus nantinya begitu akan melanjutkan perguruan Tinggi harus melalui test dengan standart yang telah ditetapkan oleh Pemerintah?

Disinilah daya saing para siswa akan di uji. Karena mereka akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Meski demikian, rasanya kita tak perlu berkecil hati dengan Ujian Nasional

Lulus atau tidak, adalah suatu tahapan yang harus dilalui untuk menapaki jalan hidup selanjutnya, meski pada akhirnya kesuksesan seseorang tak hanya di tentukan oleh nilai akademis semata.



read more "Atas Nama Ujian Nasional"

Wednesday, 27 January 2010

Budayakan Antri

8 comments


Tadi pagi sebelum berangkat melakukan aktifitas, saya mampir ke POM bensin dulu. Kebetulan bensin saya sudah menunjukkan sedikit di atas garis Empty. Apalagi POM Bensin pagi itu gak terlalu ramai, mungkin karena masih pagi jadi hanya ada beberapa mobil dan motor yang antri. Di depan saya kira-kira ada 3 motor yang ikutan antre.

Ketika hampir giliran saya, tiba-tiba ada motor yang menyerobot di depan dan langsung mengisi bensin tanpa ikutan antre. Pengemudinya seorang pria, berusia kira-kira 30 tahunan, agak botak, berseragam kerja Pegawai Negeri. Yang membuat saya heran melihat kejadian itu, petugas POM bensin yang melayani gak menegur pembeli tersebut dan melayani seperti biasa seolah tak terjadi kejanggalan apapun.

Saya kesel bukan main.

Bukan hanya sama Bapak-bapak PNS si empunya motor, tapi juga sama petugas POM bensin itu. Kenapa hal tersebut dibiarkan terjadi begitu saja? Ironisnya, dilakukan oleh 2 orang lelaki dewasa yang harusnya ngerti tentang tata krama dan ketertiban. Kelihatannya sih memang kejadian kecil dan sepele, namun menurut saya itu sangat mengganggu.

Seringkali saya melihat sebuah tulisan di sebuah papan yang biasanya ditempel di depan kasir di swalayan-swalayan (terutama swalayan yang ramai) “BUDAYAKAN ANTRE”. Dan tulisan itu bukan sekedar pajangan atau tulisan biasa, tapi untuk dipatuhi. Dan memang biasanya mereka melakukan antre dengan tertib.

Pertanyaannya : kenapa kalo antre di kasir swalayan aja kita bisa tertib menunggu giliran, tapi kenapa kalo di tempat umum kita ga bisa? Bahkan kalo orangnya rame banget yang antre kita malahan jadi engga tertib sama sekali malahan cenderung brutal?

Mungkin saya memang belum pernah ke luar negeri, seperti sahabat Black Community yang lain tapi saya kerap menonton tayangan di televisi tentang budaya antre ini di Negara-negara Eropa dan Negara Amerika. Dalam setiap kesempatan yang ada, mereka rela menyempatkan waktu untuk melakukan antre dengan tertib hingga gilirannya tiba. Meski yang antre berbaris sedemikian panjangnya, namun jarang banget ada berita yang menyebutkan ada nya beberapa insiden yang diakibatkan oleh kericuhan saat mengantre.

Sedikit berandai-andai, seperti halnya pemikiran autoblacktrough kalo saja, masyarakat kita mengerti tentang pentingnya budaya antre ini, tentu tak ada lagi insiden yang terjadi hampir setiap tahun di negeri kita setiap hari Raya : Pembagian Zakat. Insiden yang kerapkali merenggut puluhan nyawa untuk mendapatkan memperebutkan beberapa lembar rupiah atau sekantong plastik sembako. Atau pembagian dana BLT yang seringkali berpotensi menimbulkan kerusuhan.

Panitia kadang sudah mengantisipasi sebaik mungkin agar tak terjadi insiden-insiden buruk tersebut dengan memperketat penjagaan dan mengatur jadwal antre. Namun, sebagus apapun panitia melakukan perbaikan sistem, kalo para pengantre sendiri tak mau tertib, hasilnya akan sama saja. Berebut semaunya, sikut-sana sikut sini, injak sana –injak sini.

Yang kuat tak peduli pada yang lemah, yang kemudian timbul malah sifat serakah ingin mendapatkan jatah lebih banyak begitu ada kesempatan. Sedangkan yang lain menjadi begitu beringas, takut tak kebagian karena jatah yang seharusnya dibagikan merata, ada yang lebih memintanya.

Mustahil rasanya, memperoleh suasana tertib saat mengantre kalo budaya kita masih terus seperti itu. Attitude kita yang demikian itu ga selayaknya dipelihara dan seharusnya yang menjadi contoh, adalah orang-orang tua/dewasa yang berpendidikan.

Semua orang punya kepentingan dan kesibukan yang sama, barangkali itulah asumsi yang selalu harus dibangun agar kita bisa memelihara budaya rasa malu, bila menyerobot yang belum/bukan gilirannya.

Gambar diambil di sini





read more "Budayakan Antri"

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting