Sunday, 21 November 2010

Sumiati dan Kikim Komalasari : Nasibmu kini



Kalau kita mendengar berita tentang nasib TKI kita Sumiati yang dianiaya majikannya hingga mulutnya digunting dan dipukuli sampai babak belur atau Kikim Komalasari yang nasibnya lebih tragis karena harus kehilangan nyawanya, kita hanya bisa mengelus dada dan mengatakan : KASIHAN

Yang mengucapkan kasihan bukan hanya kita. Rakyat biasa pada umumnya, tapi juga para pejabat berwenang, wakil rakyat bahkan Bapak Presiden. Tapi sayangnya sampai sekarang yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah TKI yang tak pernah usai ini dari tahun ke tahun hanya ucapan : KASIHAN.

Kalo lebih ya hanya sedikit dan tak menyelesaikan masalah.
“Saudara-saudara para TKI. Bekerjalah Anda dengan tenang di Negara orang lain. Baik-baiklah menjaga diri. Kami akan membekali Anda dengan ketrampilan yang cukup dan jaminan kesejahteraan yang memadai. Negara akan menjamin keselamatan Anda sampai kapanpun. Negara akan melindungi Anda setiap saat dari perlakuan tidak adil oleh siapapun. Jadi Anda tak perlu khawatir karena Negara akan selalu membantu Anda saat Anda sedang mengalami kesulitan. Selamat Bekerja dan sukses selalu!”
Sebenernya kalimat itulah yang ditunggu oleh ribuan TKI kita dan anak buahnya dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bukan seperti ini :
“ Saya memerintahkan kepada semua pihak yang terkait agar semua TKI yang bekerja di luar negeri dibekali handphone. Jadi kalau ada apa-apa cepat bisa dihubungi keluarganya.”
Yang menjadi pertanyaan. Apa memang yang dibutuhkan oleh TKI kita adalah handphone? Saat ini coba Sumiati di beri handphone. Bisakah meringankan penderitaannya? Atau si Kikim Komalasari diberi Handphone bisakah ia memakainya?

Gimana bisa pakai setelah mulutnya digunting dan jasadnya dibuang ke tong sampah?

8 comments on "Sumiati dan Kikim Komalasari : Nasibmu kini"

tobytall on 21 November 2010 at 16:45 said...

err aku mau komen takut salah huhu
aku pernah liat, segerombolan TKI (majority of them were women) baru mendarat di bandara cengkareng. sekelompok orang (laki-laki) sudah menunggu. sepertinya orang2 ini lah yang akan membawa TKI2 ini pulang ke daerah masing2 (Cengkareng kan cuma tempat mendarat, tp sepertinya TKI ini asalnya bukan dari Cengkareng *mrenges*)

segerombolan laki2 ini sudah langsung 'niteni' (apa ya bahasa indonesianya niteni. niteni tuh bahasa jawa) - ketika para TKI ini keluar dr custom.

dg muka sangar (nggak ada senyum sama sekali), dan memanggil para TKI itu dg keplokan tangan (kayak kalau manggil burung dara pulang), dan suara lantang "sini kamu! ya, ya!!!! Kamuuuu!!! SINI!!!"

sebagian TKI langsung datang krn takut. aku sempat menangkap bisik2 mereka "udah, ayo ajah". sebagian yg lain "siapa itu?". tp melihat beberapa temen2nya mendekati pria2 itu, beberapa perempuan yg bingung akhirnya ikut juga.

dan ketika mereka mendekat, nada suara laki2 itu juga nggak lebih baik/ramah: "MANA KOPERNYA? HEH! KAMU! INI! BAWA SENDIRI!!!!"

kepulangan TKI itu kan rasanya tidak pernah diatur sama agennya. jadi, ketika pulang ke Indonesia, mereka akan jadi "santapan" calo2 angkutan yg membawa mereka ke daerah masing2 (dan aku pernah baca, itu mereka benar2 dipalak di angkutan. sistemnya naik dulu, baru di tagih di atas mobil. kalau mereka nolak bayar, akan "dibuang" dimana saja - biasanya tempat yg sepi.)

setiap kali aku baca kasus seperti sumiati ini, aku selalu ingat pengalamanku liat TKI2 ini di cengkareng. dan entah kenapa - kok, aku merasa - *maaf ya* mental TKI ini memang mental "babu". Krn, kita semua disosialisasikan melihat orang yg kita bayar sebagai babu. Kata ayahku (selalu): "mereka itu pembantu. tugasnya MEMBANTU. dimana2 org yg membantu itu porsi kerjanya lebih ringan. Jadi, porsi kerja yg paling besar ada di kita. bukan di pembantu."

dan aku yakin, TKI2 itu bahkan tidak punya cukup rasa percaya diri, bahwa mereka itu pahlawan buat Indonesia (pahlawan devisa) - bahwa, mereka (kalau mau) bisa memperkarakan negara krn tidak menjaga/melindungi mereka.

pingin banget aku punya program kayak di Philipina, TKI2 itu diberdayakan sehingga merasa "bangga" bisa menyumbangkan sesuatu utk negara. jadi, nggak mudah ditindas. di negara orang di tindas, di negara sendiri juga.

sebal aku sama pemerintah.

*maaf, bisa jadi postingan nih hahhahahah*

inge / cyber dreamer on 21 November 2010 at 23:53 said...

melihat nasib mereka memang sekarang ini hanya bisa mengelus dada.

banyak faktor menjadikan mereka sebagai TKI, yang memang sebagian besar adalah untuk mencari penghasilan dan karena tak punya kecakapan yang cukup akhirnya menjadi TKI... dengan harapan ada pembekalan sebelum berangkat.

hampir sama dengan banyaknya orang yang pergi ke jakarta dengan merasa bahwa dengan mencari kerja di jakarta lebih mudah >.<

tapi semua tak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran dari orang Indonesia sendiri yang ingin mencari penghasilan disana.
tanggung jawab mereka juga dalam mencari penyalur yang benar-benar baik, kemudian dalam membawa diri mereka disana. >.<

bukan berarti dengan begitu pemerintah bisa lepas tangan >.<

ah ribet kalo dah masalah seperti ini >.<

karena banyak juga koq TKI yg berhasil mendapatkan rejeki dan pulang dengan selamat ^^

Itik Bali on 22 November 2010 at 04:34 said...

@ Tobytall : Iya mbak, di negera orang jadi pembantu, dinegara sendiri juga diperlakukan semena2. Mereka kerap jadi sasarang pungli dari petugas bandara, sopir taksi, dan sebagaiya dan sebagainya sebelum sampai di rumah sendiri.

Pemerintah kita selalu lemah dlam hal diplomasi..apapun dan dimanapun. Apa mungkin kita selalu merasa rendah diri sama Negara lain ya? Ya kalo Negaranya aja sudah punya mental rendah diri tentu saja ini mempengaruhi tenaga kerjanya kan?

@ Mba Inge : Iya mbak, banyak TKI kita yang bernasib baik, tapi banyak pula yang bernasib buruk. Kalau dari jumlah persentasi sebenernya yang berbasib baik lebih banyak dibanding yang bernasib buruk. Tapi sayangnya yang terekspos adlah yang bernasib buruk.
Tapi saudara2 kita yang bernasib baik sebenernya banyak yang tak menutup mata bahwa banyak sekali keridak adilan yang diteroma oleh para TKI. Contohnya banyak, seperti yang banyak disuarakan blogger TKI kita mbak Anaz dan Mba Rie Rie

the others.... on 23 November 2010 at 23:36 said...

Duh..., tak tega aku mendengar penderitaan para TKW kita yang disiksa para majikannya. Emangnya mereka (para majikan) itu makanannya apa sih, kok naluri hewani-nya kuat sekali...?!

Cermin on 25 November 2010 at 14:51 said...

kunjungan siang, kawan

rezKY p-RA-tama on 2 December 2010 at 09:01 said...

benar - benar musiman dan tidak segera di tindak lanjutin
hadu,,,
repot2
moga aja segera ditindak lanjuti,,,
jadi ham masih bisa dipertanggung jawabkan

Imtikhan on 2 December 2010 at 21:24 said...

kasian sekali ya mbak
disiksa sampai kayak gitu

Desy on 2 December 2010 at 21:46 said...

bener-bener kasian ya

izin follow mbak

Post a Comment

Thank for dropping comment here
Please do not make spam comments
Because spam comments will be removed

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting