Thursday, 21 January 2010

Menghargai Sebuah Proses




Black Community, Barangkali postingan ini adalah bentuk sebuah ke tidak puasan dengan apa yang terjadi pada saya belakangan ini.

Tentang suatu hal yang tak bisa diprotes namun terjadi. Kejadian yang membuat saya pada suatu kesimpulan, yang entah benar atau salah mengacu pada sebuah keyakinan bahwa kadang hasil akhir itu menjadi begitu penting tanpa melihat bagaimana proses terciptanya sebuah hasil itu.


Beberapa hari yang lalu saya mid test matematika, untuk itu saya belajar mati-matian hingga tengah malam. Hasilnya sih engga jelek, lumayan bagus meski tak mendapat nilai yang paling bagus. Saya mendapatkan range nilai yang mengarah ke B+.


Tapi saya merasa sedikit kecewa. Bukan karena saya tidak puas dengan nilai saya, tapi hanya sedikit iri dengan beberapa teman yang mendapat nilai range A padahal saya dan teman-teman yang lain tahu persis mereka nyontek. Dan yang lebih menyebalkan lagi, dia merupakan anak emas hampir semua pengajar.

Semua pengajar menilai dia adalah orang yang pintar, baik, jujur dan bersahaja. Bak cerita di sinetron-sinetron Indonesia, seorang tokoh jahat yang bersembunyi di balik topeng kebaikan. Saya ingin mendapatkan standart mutu yang sesuai dengan keinginan saya, seperti halnya mutu Djarum Black yang bisa menembus pasar internasional


Hal seperti ini seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal pekerjaan, karier, olah raga dan seni. Beberapa orang dengan type “penjilat” yang menghalalkan segala cara ternyata jauh lebih sukses ketimbang yang memang bersungguh-sungguh mencapainya dengan cara bekerja keras. Melihat hal tersebut kadang membuat saya sedikit frustasi dan berpikir untuk mengambil jalan pintas mengekor yang sukses dengan tekhnik “menjilat”.


Tapi bila saya melakukan hal itu, apa bedanya saya dengan mereka? Rasanya sayang kepada usaha keras saya selama ini, kalo akhirnya harus melakukan juga hal seperti itu.


Saya pernah bertanya hal ini kepada ibu saya tentang hal ini. Dan ibu saya hanya menjawab dengan jawaban yang kira-kira seperti ini :


Setiap orang masing-masing punya cara untuk sukses. Ada yang senang dengan jalan pintas namun banyak pula yang masih berkeyakinan untuk bisa sukses dengan cara bekerja keras. Jangan melihat orang hanya dari hasil akhirnya saja, tapi hargailah sebuah prosesnya menuju keberhasilan itu apapun caranya.

Jangan kira orang yang mengambil jalan pintas itu juga tanpa usaha. Mereka berusaha menjadi penjilat yang baik, memakai topeng setiap saat yang resikonya mungkin suatu saat akan terbongkar. Jangan dipikir mereka juga tak lelah atau jenuh dengan diri mereka. Mereka harus merasa tak nyaman, karena saban kali harus memutar otak bagaimana agar kelihatan manis di depan orang lain, padahal dia lagi tak ingin bermanis-manis.


Meski, “kalimat bijak” itu kurang memuaskan saya, karena saya merasa mendapat perlakuan tidak adil, namun ada baiknya saya mengambil sisi positif dari kejadian itu. Biarlah orang lain dengan caranya sendiri untuk mencapai sebuah hasil namun saya juga punya cara sendiri.

Saya juga tak bisa mengikuti cara pandang dan gaya mereka untuk mencapai sukses dengan jalan pintas. Kalaupun saya lakukan, saya juga tak akan merasa nyaman dan bahagia dengan cara itu.

Saya dengan style saya, meski hasilnya kadang kurang maksimal, tapi saya bisa menikmati hasil yang saya capai dengan sebuah proses yang saya yakini itu adalah sebuah proses yang benar.

A striker only need to score once to be a hero,
A defender only need to concede once to be a loser
It may not fair, but this is life…



16 comments on "Menghargai Sebuah Proses"

Itik Bali on 21 January 2010 at 07:04 said...

:d: :l:

Clara on 21 January 2010 at 07:46 said...

saya sih rasanya ga pernah ketemu orang kaya gitu, tapi saya lebih milih usaha sendiri deh
hasilnya biasanya lebih puas, meski mungkin bukan yg terbaik.
setidaknya, kita udah berusaha...

aaSlamDunk on 21 January 2010 at 09:28 said...

jadi dirimu sendiri tik
:z:

Fanda on 21 January 2010 at 09:55 said...

Welcome to the un-perfect life! Ibumu ada benarnya juga meski dalam kehidupan nyata, kadang ada juga saat kita memang mesti jadi penjilat. Misalnya saat kita kerja, kita juengkel banget ama bos kita, tp kita tetap butuh pekerjaan itu, jadilah di depannya kita hrs tetap tersenyum manis.

Lagipula, penjilat itu tak selalu berarti mendapatkan kesuksesan dgn cara tidak halal. Menurutku 'menjilat' itu jg salah satu cara diplomasi, asal ga kebablasan...

zujoe on 21 January 2010 at 11:50 said...

:s: mampiirr...

Noor's blog on 21 January 2010 at 15:40 said...

Nyontek ? wah memang paling menyebalkan non, bagaimana tidak...wong kita sudah mati2an belajar semalam suntuk..eh yang lain malah enak2an nyontek, sudah gitu dapet nilai bagus lagi...aargggghhhh...!!!

Festival Museum Nusantara on 22 January 2010 at 10:30 said...

your mommy right, dear

the others... on 22 January 2010 at 14:41 said...

Bagiku yang penting adalah prosesnya, karena dari proses itulah seseorang dapat memetik banyak pelajaran.
Kepuasan adalah bonus yang kita dapatkan jika hasil akhir sesuai dengan proses yang kita lalui.

catatan kecilku on 22 January 2010 at 16:57 said...

Pesan sang mama bener tuh...

Munir Ardi on 22 January 2010 at 17:47 said...

:z: Penjilat kelaut aje

Aditya's Blogsphere on 23 January 2010 at 00:55 said...

Itik manis....itik cantik....foto profilmu buat aq deg-deg an.......mis yuniperes 2010 q....aq ninggal komen di 3 blog mu loh.....kecuali journey of balinese girl....cz dah 88 komen takut ga kebaca punya q....(tapi komenya sama semua hehe)

Aditya's Blogsphere on 23 January 2010 at 00:55 said...

:p:

SemutGeniNet on 23 January 2010 at 01:56 said...

jilat menjilat itu sangat amat di perlukan dan di haruskan bagi "sebagian" orang dan posisi :u:

Alfaro on 25 January 2010 at 13:05 said...

siph mantap sekali hehehehe

Vicky Laurentina on 26 January 2010 at 18:38 said...

Ayu, ini cerita aja dari jaman kuliah saya.

Waktu kuliah dulu, ada teman-teman kuliah saya yang suka nge-geng. Pas midtest/final test mereka sering contek-contekan. Kebetulan mereka masih anak kandungnya dosen-dosen, jadi mereka gampang banget punya soal bocoran.

Saya sebagai anak rakyat jelata sering iri coz saya nggak kecipratan contekan-contekan haram itu. Padahal tiap malam saya belajar keras bagai kuda, dicambuk dan didera.. (Lho, kok kayak lagunya Koes Plus?)

Lalu lama-lama saya nyadar apa yang sebenarnya terjadi. Teman-teman saya yang curang itu kan menyandang beban mental lantaran orangtua mereka profesor di kampus kami. Kalau nilai mereka jeblok, nanti orang tuanya yang malu. Coba bandingkan dengan saya, kalau nilai saya jelek kan yang malu cuman saya, orang tua saya nggak ikut-ikutan tercoreng.

Tinggal kembali ke pendirian kita masing-masing, demi nilai bagus, kita mau ikutan jadi maling atau mau jujur?

Yang paling penting, Ayu, mau milih main curang atau main jujur, kita nggak boleh nyesel dengan pilihan kita.

Itik Bali on 27 January 2010 at 03:19 said...

@ Mba Vicky : Thanks atas sharingnya
Meski sedikit gondok, ga seharusnya saya menyesal atas segala keputusan yang sudah diambil..

Post a Comment

Thank for dropping comment here
Please do not make spam comments
Because spam comments will be removed

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting