Thursday, 3 December 2009

Pilih mana : kualitas atau kuantitas?




Pada ajang kontes-kontes jaman dahulu, seperti Bintang Radio dan Televisi, kontes Kecantikan, kontes menyanyi, kontes menulis atau kontes akting yang paling berperan adalah peserta dan tim juri.

Penentuan pemenang atau sang juara di tentukan mutlak oleh keputusan juri tanpa bisa diganggu gugat oleh siapapun. Penentuan pemenang didasarkan oleh kualitas yang dinilai oleh juri kepada mereka yang memang pantas untuk menyandang gelar sebagai The Winner.


Ternyata system penentuan pemenang seperti ini memiliki kelemahan. Pemenang yang dianggap oleh Juri mempunyai kualitas ternyata tak cukup popular di masyarakat. Setelah pemenang tersebut “dilepas” terjun ke industry, dia bukanlah apa-apa dan tak menjadi apa-apa.

Industri yang berkembang pesat, bukan hanya membutuhkan seseorang yang mempunyai kualitas yang bagus saja, tetapi harus mempunyai daya tarik, daya saing, daya jual ke khalayak. Seorang juara kontes menyanyi misalnya, sang juara mempunyai suara yang sangat merdu.

Namun dari segi penampilan dia tak cukup mempunyai daya jual di pasaran. Maka setelah ia terjun ke Industri rekaman, kaset dan CDnya jeblok di pasaran, dan yang lebih ironis, dia kalah bersaing hanya dengan seseorang yang bersuara cempreng yang tak pernah menjuarai kontes dan tak akan pernah jadi juara yang kaset dan CDnya mencapai penjualan berjuta-juta copy.

Lalu saat ini di era tekhnologi digital mulai berkembang, saat masyarakat sama sekali tak asing dengan yang namanya Hand phone dan SMS, maka system penentuan pemenangpun dirubah.

Para juri hanya bertugas sebagai komentator untuk menggiring opini masyarakat agar memilih para idolanya yang “diharapkan” berkualitas melalui banyaknya SMS yang masuk. Poling seperti ini dianggap adil oleh peserta maupun Industri, karena bagaimanapun juga sebelum menjadi finalis yang akan dipilih sebagai pemenang telah melalui babak kualifikasi yang kualitasnya telah di tentukan oleh juri.


System inipun ternyata tak cukup efektif untuk mendapatkan pemenang yang berkualitas namun popular di masyarakat yang diharapkan bakal menjadi bintang baru. Dalam kenyataannya, para pemenang juga tak cukup berhasil menjadi idola baru yang mampu mendongkrak kepentingan ekonomis Industri, karena system polling yang diterapkan dalam ajang kontes di Indonesia lebih kepada kuantitas banyaknya SMS yang masuk, tanpa peduli dari nomornya siapa.

Sebagai contoh, American Idol, walaupun pemenangnya di tentukan oleh banyaknya SMS yang masuk, namun dalam 1 hari 1 nomor hanya boleh mengirimkan 1 kali SMS. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah hasil yang bias.

Hal ini berbeda dengan system polling di beberapa kontes di tanah air. Mereka boleh mengirim SMS sebanyak-banyaknya, dan biasanya yang mengirim SMS itu adalah kerabat mereka sendiri yang bahkan bisa menghabiskan pulsa berjuta-juta demi kemenangan seseorang. Akibatnya, kuantitas mampu mengalahkan kualitas. Siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja: OPERATOR TELEPON SELLULAR.

Sebagai jalan tengah, untuk memperoleh hasil yang maksimal baik secara kualitas dan kuantitas maka ada baiknya dipilih dua kategori pemenang, yaitu pemenang yang ditentukan oleh dewan juri berdasarkan kualitas materi dan pemenang favorit berdasarkan polling masyarakat.

Hal ini telah diterapkan oleh Djarum Black dalam Djarum Black Blog Competition. Dimana, pemenang tak hanya ditentukan berdasarkan polling, namun dari segi kualitas materi. Para Black Community , harus membuktikan kemampuan dirinya untuk menjadi yang terbaik.

Contoh lain adalah : Pemilihan Putri Indonesia, Ajang Miss Universe, Miss World dan lain-lain.

System kompetisi yang seperti ini rasanya cukup adil bagi siapapun. Peserta, pemirsa, juri dan pelaku Industri puas terhadap hasil akhir yang menguntungkan semua pihak.





10 comments on "Pilih mana : kualitas atau kuantitas?"

-Gek- on 3 December 2009 at 13:56 said...

:i:
huhuhuhh, bagus amat non..
AKu malah ikutan tapi belum buat, hahaha.

Clara on 3 December 2009 at 16:01 said...

aku sih ogah buang" pulsa untuk milih siapa pun di teve sana...nggak ada untung di aku, buntung di pulsaku T^T
males~
mending pulsa ku pake buat SMS yayangku yang bejibun di korea :P
*NGAREP*

Aditya's Blogsphere on 3 December 2009 at 17:09 said...

biyuh si itik manis......kok muncul lagi.......aq milih kualitas aja deh......cz yang di rasain itu.....

Itik Bali on 3 December 2009 at 17:47 said...

:h:

Munir Ardi on 3 December 2009 at 19:34 said...

Belum berani neng ikutan yang seperti itu

Munir Ardi on 3 December 2009 at 19:35 said...

tulisan belum punya kualitas begini

Aditya's Blogsphere on 3 December 2009 at 22:40 said...

:c: ooooiiii itik manis.....km kemagetan kapan?klo ke sini hub aq ya...tar aq ajak jalan2...nenek kamu magetan mana?

Noor's blog (inside of me) on 4 December 2009 at 10:01 said...

Memang susah non..kalo ngomongin soal selera, apalagi selera orang banyak...jadi rada susah untuk menentukan hasil yang menguntungkan semua pihak

NURA on 4 December 2009 at 12:47 said...

salam sobat
kalau saya memilih kualitas daripada kuantitas.

salam kenal juga
trims kunjungannya ya,,
saya sudah follow nich ke 20.

Astaga.com lifestyle on the net on 18 February 2010 at 05:26 said...

klo aku sih milih kualitas dong

Post a Comment

Thank for dropping comment here
Please do not make spam comments
Because spam comments will be removed

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting