Wednesday, 30 December 2009

Jangan katakan “ Ini memang sudah menjadi tugasnya”


Kemarin saya dan ibu ke Gramedia, selain buat refreshing pengin lihat buku baru, tujuan utamanya adalah : mengantar ibu saya juga mau cari buku resep kue donut.

Kadang sebenernya saya sedikit heran, melihat hobby ibu yang satu ini, suka banget beli buku resep masakan dan mengkoleksinya hingga bertumpuk namun tak satupun pernah dipraktekkan.

Menu istimewa sehari-hari keluarga kami tak jauh dari sayur sop, sayur bening, sayur asem, tumis, oseng-oseng, tempe tahu goreng, telor ceplok dan ayam goreng. Kudapan yang paling istimewa yang pernah singgah di meja makan pun paling hanya lumpia isi sayur, selebihnya pisang goreng atau ubi rebus.


Kalau diprotes, ibu selalu beralasan, biar ngirit, kan sekarang jamannya susah, apa-apa serba mahal. Lha terus apa gunanya beli buku-buku resep bejibun itu??? Aneh!! Tapi dari situlah akhirnya saya tahu asal muasal keanehan yang juga sering singgah pada diri saya.

Hampir setengah jam lamanya kami mencari di rak resep masakan buku aneka resep kue donut, tapi tak berhasil kami temukan sampai akhirnya kami minta tolong petugas untuk membantu mencarinya. Menurut data di komputer, buku tersebut masih ada stoknya 3 biji.

Petugas tokopun membantu kami mencari buku tersebut, tapi ia juga mengalami kesulitan yang sama. Padahal dia sudah mencarinya sesuai dengan urutan rak yang yang sesuai dengan urutan kode buku terdapat dalam katalog buku yang ada didalam data base komputer toko. Hampir 1 jam lamanya kami menunggu. Padahal sebenernya kami ingin bilang,

Sudahlah mas, gak usah repot-repot, nanti aja kami beli di tempat lain

Tapi demi melihat petugas toko buku yang bajunya basah dengan keringatan bercucuran sana sini padahal kami lagi di dalam ruangan ber AC, kami merasa kasihan juga. Kok rasanya enggak menghargai banget sih usaha kerasnya yang nyaris jungkir balik itu, maka kamipun masih setia menunggu hingga si biang kerok buku “Resep Aneka Donut” itu sampai ketemu.


Saya tak dapat membayangkan, bagaimana repotnya nanti petugas toko buku itu menata kembali rak yang berserakan, membungkus plastik kembali, mengembalikan buku-buku ke rak asalnya, memilah-milah sesuai dengan urutan dan kode buku.

Dan esoknya berserakan kembali, lalu ia menatanya lagi dan lagi berulang terus seperti itu setiap hari.

Mungkin saya sedikit berlebihan, namun kadang kita juga suka keterlaluan. Mengacak-ngacak rak buku yang sudah tersusun rapi, mengambil buku dan merobek bungkus plastiknya, membacanya (kadang sampe lecek) dan meninggalkan di sembarang rak yang bukan asal tempat buku tersebut berasal.

Memang sih, itu sudah menjadi kewajiban petugas toko buku, karena memang itu pekerjaannya. Mereka digaji untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi sebenarnya apa yang kita lakukan itu tak cuma merepotkan petugas, tapi juga merepotkan pengunjung lain yang akhirnya sering mengalami kesulitan mencari buku di tempatnya.

Tapi kenapa hal itu tidak terjadi di perpustakaan?

Kita tak berani sembarangan mengacak-ngacak buku yang sudah disusun rapi di rak buku yang sudah sesuai katalog buku.

Apa karena perbedaan karakter petugasnya ya?

Petugas perpustakaan cenderung galak, memarahi kita kalo kita ribut atau mengacak-ngacak buku. Mereka tak peduli, kita mau balik lagi atau engga meski selalu diberi muka galak. Mereka tak butuh kita tapi kita yang butuh perpustakaan.


Sedang di toko buku, petugasnya musti harus ramah, melayani pengunjung dengan baik, tak boleh marah-marah karena mereka butuh kita, karena kita adalah pembeli dan pembeli adalah raja.

Padahal, meski sebenarnya kadang kita ke sana enggak selalu beli kan? Kadang hanya sekedar melihat dan membaca buku baru gratisan (pengalaman pribadi..he..he).


Hal seperti itu, seringkali terjadi tak hanya terjadi di toko buku, tapi juga di berbagai kejadian dan tempat. Seperti halnya saat membuang puntung rokok Djarum Black Slimz sembarangan, membuang sampah meski sudah ditempat sampah, tapi masih berceceran dan tidak memungutnya kembali.

Atau mengambil barang di swalayan, tapi gak jadi beli dan kemudian malas mengembalikan di rak semula, padahal kadang barang yang sudah kita ambil tersebut adalah barang yang tidak tahan lama dan harus selalu disimpan di dalam lemari pendingin untuk menjaga kesegarannya.

Sekali lagi. Jangan katakan : “INI MEMANG SUDAH MENJADI TUGASNYA. Mereka kan digaji untuk itu!”

Mereka pasti tak akan marah, mereka juga pasti akan bersabar hati dan ikhlas akan melakukan tugas mereka. Karena itu memang sudah menjadi komitmen mereka. Kalau mereka tak melakukan itu dengan tersenyum mereka bakalan ditegur oleh atasan atau bahkan mereka akan kehilangan pekerjaan.

Tapi kita sebagai Black Community, ealah….mbok ya mau sadar sedikit saja untuk membantu untuk tak lebih merepotkan tugas mereka dengan menaruh barang ke tempat yang semestinya. Rasanya enggak terlalu susah kan?



10 comments on "Jangan katakan “ Ini memang sudah menjadi tugasnya”"

Noor's blog on 30 December 2009 at 15:36 said...

Ya memang rasanya tidak susah, tinggal ditingkatkan rasa perdulinya saja. eniwei..kalau ibu suka koleksi buku masakan, paling tidak non itik juga jadi pandai masak dong...

Ra-Kun on 30 December 2009 at 16:02 said...

jarang-jarang saya dapt posisi kedua :c:

iyah, betul juga. hanya karena udah tugas mereka untuk membereskan yangberantakan, bukan berarti kita boleh bikin berantakan semau udel kita...
semoga kita gak ngulangin kelakuan seperti itu... :)

aaSlamDunk on 30 December 2009 at 16:34 said...

horeee dapet ke-3
:i:
taun baruan ada acara apa ni tik>
apa mau masak resep baru? :n:

anyin on 31 December 2009 at 00:02 said...

setujuuu dek!! termasuk buat sumber keanehanmu ihihahaha

btw tumis sama oseng bukannya sama ya??

PRof on 31 December 2009 at 10:56 said...

Tempatkan diri kita di posisi karyawan toko buku, gimana perasaannya klo tiap hari harus menata kembali buku yang berserakan setiap harinya.

Vicky Laurentina on 31 December 2009 at 20:23 said...

Maksa banget bikin keyword-nya, Yu :-)

Saya sih nggak pernah ngacak-ngacak toko buku, coz saya tahu gimana susahnya nyari buku yang saya mau di antara lautan buku dalam toko yang segede-gede gaban.

Jadi resep donatnya ada nggak? Kalau mau resep donat banyak lho di tabloid memasak..

Aniz Azhar Roy on 2 January 2010 at 10:09 said...

hahahhaa...
salah satu kenikmatan di toko buku ya ngacak2 buku... hahahhaa

Aditya's Blogsphere on 3 January 2010 at 01:24 said...

mentang2 ahun baru n bali rame tyuz ga nongol di blog :m:

Fanda on 3 January 2010 at 13:32 said...

Aku juga paling benci kalo ke supermarket, lagi liat2 di rak biskuit, eh tiba2 nemu sayur atau buah. Sedih ngeliat hal2 itu dilakukan oleh org2 dewasa yang (katanya) sudah punya tanggung jawab. Btw, kalo buku yg masih berplastik, biasanya aku pilih2 dulu beberapa yg menarik lalu minta petugasnya membukakan plastik. Tapi itu kalo aku sdh berniat pasti akan beli salah satu buku itu. Kalo niat hanya liat2 (yg sangat langka terjadi!!), aku ga mau minta buka plastiknya.

Sang Cerpenis bercerita on 14 March 2010 at 15:10 said...

terbalik dg mama saya. kalo beli buku resep pasti ada yg dipraktekkin. itu menular pada adik cewek yg suka bikin kue.

btw, emang terlalu sih kalo udah acak2 buku bin ngerepotin petugas tapi gak beli buku satupun.

Post a Comment

Thank for dropping comment here
Please do not make spam comments
Because spam comments will be removed

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting