Friday, 4 June 2010

Kabar Buat Perokok. Entah Kabar Gembira atau Bukan



Tulisan ini saya ambil dari blognya Kang Ichanx (yang juga nyomot dari blognya mas Putut) memandang bahwa teriakan anti Rokok adalah lebay. Karena beberap fakta yang di temukan tentang rokok antara kepentingan, manfaat dan bahayanya mana yang lebih dominan silahkan dipikirkan lagi.

Dan ini dia note yang sangat keren abis itu...

Tulisan ini dibuat dengan cara sederhana, lugas, dan berisi poin-poin penting saja. Bukan untuk membela perokok, tetapi untuk membangunkan orang dari sihir palsu para agen neoliberal.

Anda butuh tahu soal informasi dasar perihal industri rokok di Indonesia. Berikut data-data pokok yang cukup penting Anda ketahui:

* Total dari hulu sampai hilir, industri rokok melibatkan kurang-lebih: 30.500.000 orang.

* Dari cukai dan pajak saja, pada tahun 2008, industri rokok menyumbang keuangan negara sebesar: 57 triliun.

* Dari hulu ke hilir, industri rokok memberi nilai tambah tinggi serta dinikmati oleh masyarakat dan negara, bandingkan dengan industri lain seperti: barang tambang, CPO, karet, kakao dll. Bahan-bahan itu diekspor sebagai bahan mentah, dan nilai tambahnya dinikmati oleh negara-negara pengimpor.

* Bahan-bahan untuk membuat rokok kretek (rokok khas Indonesia), 96% terbuat dari bahan lokal alias produksi Indonesia.

* Pada saat krisis ekonomi 1998, industri rokok satu di antara sedikit industri yang mampu bertahan dari guncangan ekonomi.

* Tembakau sebagai sumber utama rokok kretek , 98%, adalah tembakau asli (indigenous tobacco) diusahakan oleh petani kecil. Yang unik, adalah sebagai tembakau rajangan (pre-cut), bentuk hasil akhir masuk ke pabrik. Sedangkan tembakau untuk rokok putih dalam bentuk krosok (daun tembakau utuh) kering.

* Tembakau rajang tersebut, jenis Temanggung, Mranggen, Muntilan, Weleri, Madura, Wringin, Garut dan lain-lain tidak bisa diexport. Tembakau rajang tersebut sebagai bahan utama dan hanya bisa digunakan untuk pembuatan rokok kretek.

* Bahan utama kedua adalah cengkeh, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ditanam dan dipanen sepanjang tahun, sesuai dari asal daerahnya mulai dari Sabang-Merauke. Seratus persen produksi cengkeh adalah dari Indonesia, dan sebagian besar untuk kretek.

* Inilah wujud Rokok Kretek yang khas, unik dan khusus. Produk budaya sejak nenek moyang, menjadi kebanggaan bangsa, kekayaan budaya (heritage) dan satu-satunya di dunia.

* Industri kretek sebagai cluster industri rokok yang berbasis agrobisnis mempunyai kontribusi besar dalam APBN, peran ekonomi, penyerapan tenaga kerja, sosial budaya, pendidikan, olahraga, lingkungan dll.

Benarkah Merokok Mengancam Kesehatan? Mari kita lihat fakta-fakta berikut dengan jernih.

Pertama, Anda harus mengenal tentang tubuh manusia. Paul A.Lachance mengatakan bahwa tubuh manusia disusun oleh 63 triliun sel, +/- 5 milyar sel, 5 ribu-50 ribu sel mengalami mutasi setiap hari. Mutasi disebabkan makanan/minuman, stress (distress) ,obat-obatan, lingkungan, radio-active (radon), polutan (inklusif asap rokok).
Catatan: Carl Zimmer (1) mengutip pernyataan Judith Campisi – “Ageing: Balancing Regeneration and Cancer” – dalam Nature, 443,p.404 (2006) , bahwa setiap saat sel membelah, akan terjadi risiko pengembangan sel kanker.

Kedua, Anda harus tahu bahwa kemampuan hidup normal, organisme ~ aktivitas pemeliharaan sejumlah keseimbangan internal yang secara kolektif disebut homeostasis, termasuk daya tahan tubuh, imunitas. Homeostasis diatur dalam batas sempit melalui keseimbangan cairan tubuh, fungsi sel, aktivitas jantung, fungsi ginjal/liver/paru dan lain-lain. Kemampuan menurun, logis, sebagai fungsi meningkatnya usia.

Maka kunci utama untuk sehat:

Pertama, adalah keseimbangan. Bagaimana sel, protein, kelenjar dan organ yang berada di dalam tubuh kita, yang secara terprogram, bekerja untuk mempertahankan kesehatan dan kebahagiaan kita sesuai kapasitas dan kemampuan menjaga keseimbangan tubuh. Dan ini ditentukan oleh kemampuan tubuh menjaga fungsi sistem imunitas tubuh.

Kedua, sistem imunitas tubuh, humoral dan selular, menjadi kunci utama status sehat seseorang. Menjaga dan mempertahankan mekanisme keseimbangan tubuh, homeostasis, akan menentukan sehat fisikal, mental dan sosial seseorang. Setiap pengaruh makanan, minuman, obat-obatan dan lingkungan yang mempengaruhi manusia secara fisikal, fa’aliah, psikologikal sehingga menimbulkan depresi, kecemasan, ketidakbahagiaan dan gangguan emosional akan berpengaruh kepada sistem kekebalan tubuh dan mudah jatuh sakit. Disini ternyata ‘pikiran’ adalah mitra sistem imun kesehatan. Pikiran tenang, jauh dari distress (bukan eu-stress), berfikir positif, bahagia merupakan kunci utama menjaga keseimbangan tubuh, dan berarti menjaga kondisi sehat. Karenanya, yang perlu dicapai bukan hanya GNP tinggi tetapi juga GNH, Gross National Happiness, inilah kunci sehat dan umur panjang.

Anda juga perlu tahu ini:

Pernah ada sebuah bernama Proyek MONICA: Guna menjelaskan berbagai kecenderungan kematian penyakit kardiovaskuler (CVD) sejak 1970, pada tahun 1980 WHO membuat proyek MONICA, (Monitoring of trends and determinants in Cardivascular disease) di seluruh dunia dan guna menghubungkan faktor perubahan risiko dalam populasi periode sepuluh tahun (1980~1990). Ada 32 sentra kolaborasi MONICA dibentuk di 21 Negara. Responden sebanyak 10 juta orang – pria & wanita usia 25~64 – yang telah termonitor diseluruh dunia. Hasilnya: tidak ada hubungan antara trend faktor risiko utama CVD seperti koletesterol serum darah, tekanan darah dan konsumsi rokok.

Juga tidak ada hubungan antara trend pengaruh (serangan fatal dan non-fatal) stroke dan penyakit jantung koroner. Ternyata penyakit CVD tersebut disebabkan karena defisiensi asam folat (folic acid); demikian juga dengan ibu hamil memerlukan asam folat lebih tinggi daripada sebelum hamil, bisa fatal dalam pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.

Menurut Adler & Morris, ada empat faktor berpengaruh termasuk Neurochemistry, Reflexes, Psikologikal dan Sosial terjadi sebagai kodrat manusiawi. Habituasi atau adiksi karena memang di otak terdapat nikotin reseptor. Demikian juga reflexes sebagai tipe stimulus Pavlovian sangat manusiawi. Kepercayaan dan kebiasaan manusia menunjukkan sikap seseorang terhadap keputusannya secara psikologikal. Faktor sosial dalam pergaulan, lingkungan, dukungan orang lain.

Kemampuan Tubuh? Dengan pemahaman ajaran Paracelsus “tidak ada racun didunia, yang ada adalah dosis yang tidak benar” mendorong kita untuk mencari takaran merokok yang ‘pas’. Memang tidak ada yang ‘pas’, sangat induvidual karena rentangan NAB orang perorangan sangat beda dan berpengaruh.

Sehat dan bugar bisa dirasakan tetapi tidak sama dari seorang ke orang lain. Yang kita perlukan adalah kemampuan diri kita untuk mengendalikan konsumsi apapun, agar tidak berlebihan dan diluar kemampuan tubuh kita, termasuk konsumsi rokok. Dimensinya adalah frekuensi dan jumlah konsumsi.

Perhatikan half-life time nikotin yang hanya 30 menit. Bagaimana memperpanjangnya agar tubuh tidak sangat haus konsumsi lagi. Hal ini bisa dicapai dengan merubah pola makanan dari MPA, makanan penghasil asam menjadi MPB, makanan penghasil basa. Hal ini akan merubah frekuensi dan secara tidak langsung akan merubah jumlah konsumsi per hari.

Rokok penyebab kanker?

Tentang kanker. Menurut Judith Campisi: Setiap sel normal membelah, berisiko menjadi dan berkembangnya sel kanker.

Di alam terdapat karsinogen sekunder, vide tabel berbagai karsinogen dalam makanan. Konversi karsinogen sekunder menjadi karsinogen primer perlu kofaktor, kokarsinogen, karsinogen promotor, DNA/RNA, dll. Konversi karsinogen sekunder menjadi karsinogen primer dan sel kanker diperlukan laps time 20~30 tahun.

Tentang Nikotin: Half-life time (waktu paruh) dalam tubuh hanya 30 menit. Nikotin dalam Media Model: bukan tergolong physical dependence tetapi psychological dependence, tidak ada bukti euphoria, tidak ada ‘drug abuse’, tidak ada “fly”, “climb a mounting” seperti ketika orang mengkonsumsi opium. Perokok masih “under control” secara individual. Secara masyarakat, tak ada subculture of violence/crime/hubungan dengan prostitusi seperti dampak oleh hard drugs.

Sebab kematian. 10 sebab kematian (WHO): Koroner, Stroke dan Serebrovaskuler, Trachea/Paru/Bronchus, Infeksi pernafasan, Kanker kolon, Alzheimer & Dementias, Diabetus Melitus, Kanker payudara, Kanker usus/perut dan PPOK Dari sepuluh sebab kematian tersebut ternyata 53,3% di negara berpenghasilan tinggi, 44,4% berpenghasilan menengah dan 29,9% dinegara berpenghasilan rendah.

Konsumsi rokok tertinggi adalah Yunani, 4313 btg/orang/tahun(bot), Hongaria 3265 bot, Kuwait 3062, Jepang 3023 bot, Spanyol 2779 bot. Jepang, angka kematian kanker paru terendah dibandingkan Amerika Serikat. Disebabkan konsumsi enersi lemak di Jepang hanya 8% dari kebutuhan enersinya. Sedangkan Amerika Serikat konsumsi lemaknya 40% dari kebutuhan enersinya.

Mati karena rokok?

Sejak dekade 80 telah terberitakan setiap 11 detik satu orang meninggal karena rokok, sekarang diberitakan setiap 3 detik satu orang meninggal karena rokok. Apakah pernah dinyatakan dalam certificate of death bahwa kematian mereka
memang karena rokok? Bagaimana membuktikan kematian tersebut.

Data statistik: Yang disajikan atas dasar data epidemiologi .

Fakta : Hubungan penyakit dan angka kematian tidak sebagai cermin data riset hidup sebenarnya. Tidak ada hubungan kuantitatif dan kualitatif yang nyata. Orang Jepang perokok berat, 3023 batang/orang/tahun, tetapi angka kematian kanker paru terendah didunia. Menurut Harvard Medical School, orang Jepang dalam diet harian konsumsi sumber enersi dari lemak hanya 8% dibandingkan konsumsi orang Amerika 40% berasal lemak (simak S.A.D./USA).

Mitos tentang perokok pasif

Issue ETS: Environmental Tobacco Smoke, passive smoking, ditempatkan sebagai perkosaan pernafasan orang. Non perokok lebih menderita daripada perokok?

Bantahan: Memang ada orang yang tidak tahan terhadap bau asap rokok. Untuk tersebut diatas harus dihargai. Bukan perokok (dekat perokok) terpapar asap rokok tetangganya sangat minim karena larinya asap rokok keatas (temperatur asap lebih tinggi). Dari hasil penelitian terhadap ratusan ‘caffee’yang dilengkapi “extractor” diatas kepala, setelah cafe tutup (sekitar durasi 4 jam) ternyata pengunjung non-perokok dapat paparan ekivalen merokok satu batang kalau dia tinggal di caffee selama 105 jam.

Kalau 70 juta batang rokok dibakar di Jakarta per hari, akan memberikan total particulate mater (TPM) sebanyak 5 ton. Kalau 200 ribu kiloliter BBM dibakar sehari akan menebarkan 100 ton TPM, ditambah dari industri, pesawat terbang dan debu akan ada total 205 ton TPM per hari di Jakarta. Kontribusi TPM rokok hanya 2,4%.

Benarkah rokok mengandung bahan adiktif?

Bahan adiktif: Dinyatakan bahwa nikotin sebagai bahan yang bertanggung jawab atas kecanduan seseorang yang merokok.

Bantahan: Nikotin, dari tanaman Nicotiana Tabacum, adalah amine tertiair terdiri dari pyridine dan pyrolidine (C10H14N2). Nikotin sering disamakan dengan sifat adiksi heroin, opium, cocain yang selalu menuntut tambah dan tambah dosis.

Dan tuduhan ini sangat berlebihan (over-used), bahkan British Medical Association menyarankan anggota dokternya agar tidak menggunakan kata adiksi sebab “kata tersebut membawa impresi bahwa tidak mungkin seorang perokok bisa berhenti, ini memungkinkan”. Memang untuk nikotin, dalam situasi asam akan mudah membentuk garam karenanya cepat diekskresikan lewat urine.

Waktu-paruh hanya 30 menit. Dengan diet MPB akan mudah tuduhan adiksi tersebut diatasi. Nampaknya, kata adiksi, sesungguhnya salah aplikasi dalam konteks nikotin dan tembakau. Lihat posisi nikotin terhadap bahan-bahan tergolong NAFZA, baik ditinjau dari tingkat ketergantungannya dan tingkat asseptabilitasnya.

Benarkah petani tembakau melakukan pengerusakan lingkungan?

Penggundulan Hutan: Industri dituduh melakukan usaha penggundulan dan tidak melakukan perlindungan lingkungan.
Bantahan: Luas areal tembakau di Indonesia hanya sekitar 200 ribu Ha dan luas areal ini merupakan 0,64 % dari seluruh cropland yang ada di Indonesia.

Merokok mengganggu kesehatan ibu hamil dan anak-anak?

Tentu saja iya! Maka itu industri rokok tidak memasarkan rokok untuk anak dan ibu-ibu hamil. Ibu-ibu lebih rasional dalam menentukan keputusan merokok. Sejak dulu kala, memang rokok tidak dibuat untuk anak-anak. Tidak ada niatan dan kesengajaan bahwa rokok untuk anak-anak. Pergaulan dalam lingkungan anak-anak yang sangat berpengaruh.

Perlu perhatian serius orang tua dan sekolah tehadap lingkungan dan berkembang-tumbuhnya anak-anak kita kedepan. Saat ini nampaknya guru dan sekolah lebih berperan daripada orang dan rumah tangga.

Tetapi kalau ibu hamil dan anak-anak lebih ingin sehat, beranikah Anda bilang: larang semua mobil yang jelas-jelas membuang polutan sangat besar di udara. Beranikah Anda protes bahwa mi instan harus ada kalimat larangannya untuk mengonkonsumsi dalam rentang hari tertentu karena mengandung MSG dan lapisan lilin.

Kenapa Anda tidak protes dengan tempe dan tahu yang dibuat dari kedelai transgenik. Kenapa pula Anda tidak pernah berteriak tentang awas ikan laut yang di beberapa laut Indonesia mengandung kadar merkuri yang sangat besar karena lautnya sudah tercemar?

Kenapa kampanye anti-rokok semakin hari semakin gencar?

Pertama, terdapat perang besar antara industri farmasi dan industri rokok. Hanya bedanya, industri farmasi berdalih sebagai ‘dewa kesehatan’ dan menyerang industri rokok sebagai ‘setan kesehatan’. Padahal, dalam banyak hal, industri farmasi tak kalah jahat. Lihat praktek-praktek pemberian obat-obatan di rumahsakit dan di apotik-apotik.

Kedua, karena di negara Eropa dan Amerika, pasar rokok sudah sampai pada titik maksimal. Sehingga mereka harus masuk ke pasar Indonesia dan bahkan berusaha mengakuisi perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Tetapi karena elemen penting rokok adalah tembakau yang diproduksi di Indonesia, mereka menyerang rokok kretek sebagai rokok khas Indonesia, sebab jika berhasil, maka tembakau yang dipakai kelak akan didatangkan (impor) dari negara lain.

Jadi, masihkan Anda dengan dungu menganggap bahaya merokok itu hanya sekadar soal kesehatan?

Buka mata Anda, ini soal perang ekonomi dan pemalsuan penelitian. Lebih kritis, lebih cerdas dan bangunlah dari sihir mitos berbalut teori, yang di belakang itu semua adalah persoalan perang ekonomi!




16 comments on "Kabar Buat Perokok. Entah Kabar Gembira atau Bukan"

Itik Bali on 4 June 2010 at 01:18 said...

Komen di blog sendiri ah...

Vicky Laurentina on 4 June 2010 at 08:28 said...

Ayu, Ayu mengacaukan kampanyeku tentang antirokok.

Beberapa bantahan:

1. Hasil penelitian proyek MONICA di atas tidak bisa dijadikan acuan, karena penelitiannya saja diselenggarakan tahun '70-'80. Ketika itu kondisi lingkungan tidak bisa disamakan dengan sekarang, karena tingkat polusi dan tingkat mutasi gen dalam tubuh perokok aktif/pasif belum setinggi sekarang. Jadi tidak relevan.

Memang betul faktor utama CVD adalah kekurangan asam folat. Tapi itu kan dulu, pada tahun '70-'80? Bagaimana dengan sekarang, periode 2000-10?

2. "53% kematian terjadi di negara berpenghasilan tinggi, 44% di negara berpenghasilan menengah."

Well, semakin rendah penghasilan suatu negara, maka semakin rendah kemampuan negara itu untuk melakukan survey penyebab kematian.
Coba dipikir, negara RI yang nggak tajir-tajir amat aja, bikin sensus bulan Mei aja susahnya setengah mati. Gimana caranya mau bikin survey teliti tentang penyebab kematian? Apa ada petugas sensus nanya, "Ooh..jadi kepala keluarga ini sudah meninggal? Meninggalnya karena apa?"
Pasti keluarganya jawab, "Sakit jantung." atau "Ketabrak truk manggis."
Apa ada petugas sensusnya nanya, "Dulu sebelum meninggal, engkongnya merokok, nggak?"

Penyakit penyebab kematian hanya bisa diketahui dari rumah sakit tempat mayat itu meninggal. Lha kalo orangnya meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit, mana pernah keluarga melaporkan penyebab kematian?

AzHis Jhie on 4 June 2010 at 09:04 said...

yang jelas, orang yang sadar akan kesehatannya pasti tidak akan merokok...

hitung2 untuk mengurangi pengeluaran pribadi yang sebenarnya tidak berguna...

-Gek- on 4 June 2010 at 10:10 said...

Aduh duh, panjang amat bu. Bahan penelitian di sekolah yak? :k:

For me, SAY NO TO SMOKING. CAP LUNAS.

Itik Bali on 4 June 2010 at 10:18 said...

@ Mbak Vicky : hahaha..emang gak ada yang salah dari asumsi mbak Vicky. Saya bukanlah pendukung orang yang merokok meski saya bukanlah anti perokok, tapi kemarin saya menemukan tulisan keren ini dari seorang perokok yang menyajikan fakta-fakta yang cukup 'berani' dan lain daripada yang lain.
Selama ini orang hanya mengenal kampanye anti rokok, bahkan perokok tulen yang jelas2 merokok hebat ikut kampanye anti rokok.
Jarang banget yang berani mengatakan " saya merokok tapi gak apa-apa tuh?"
Saya mengutip tulisannya yang menurut saya bisa menyajikan sisi lain dari seorang perokok

Miss Rinda on 4 June 2010 at 13:14 said...

widihh complette yiaa tik infonya,,jd inget dosenQ yg suka marah geje kalo udh ngebhas rokok yg ktanya haram skrg,uang2 dia,y kalo mati krn rokok jg trsrah dia,,hihi^^

tp baru tw nie fakta2nya,,tengkiyouw y tik.. :c:

vany on 4 June 2010 at 14:02 said...

kalo gak salah saia jg prnh baca tulisan ttg rokok ini di blog lain...hehehe
ternyata faktor ekonomi jg ikut berpengaruh ya.. :)

ario saja on 6 June 2010 at 12:24 said...

klo di kaji dari sisi agama yang saya peluk, merokok memang ada manfaatnya dan ada keuntungan untuk masyarakat sekitar, tetapi lebih banyak mudhorot (kerugiannya) yang di terima baik oleh perokok maupun lingkungan sekitarnya.

Simplenya jika seorang itu perokok tingkat mengah dimana 2 hari menghabiskan 1 bungkus rokok, jika 1 bungkus rokok harganya Rp. 5000 (misalnya) kalau di kalkulasi selama 1 bulan (30 hari)maka hasilnya Rp. 75.000. Andai kata uang itu tidak di buat buat rokok (dimana kita bisa gambarkan merokok = membakar uang) tetapi di infak / shodakoh ke jalan yang benar misalnya.

Bukan kah itu lebih baik, dengan Rp. 75.000 mungkin bisa menyekolahkan 1 orang anak tidak mampu setingkat SD, menurut saya sih itu lebih mulia

Irwan Siska on 7 June 2010 at 09:14 said...

Untung Gka ngrokok..

Masda on 8 June 2010 at 20:50 said...

Wah kalo ninggalin rokok susah buat saya, saya juga pernah baca di blognya ichanxs mbak, tapi bener juga pemikiran ichanx, disisi laen bener juga masalah kesehatan,

Aguestri on 11 June 2010 at 00:24 said...

Ikut cuap cuap ach, kalo menurut ane sich ssemua orang ngerti bahaya rokok tapi ane yakin nggak ngeh kalo bahaya itu benar-benar mengancam kesehatan mereka.

Depkes yang hanya berdiam diri membuat semua perokok berat atau ringan menjadi tak berdosa menghabiskan uang mereka untuk membeli sepucuk rokok

kusuma on 15 June 2010 at 15:29 said...

untung ga ngerokok, mending uang untuk beli rokok
dipergunakan untuk kepentingan lain yang lebih positif

OEN-OEN on 15 June 2010 at 16:02 said...

kepanjangen jadi g bisa menikmati nih, koment dulu aje ah...

firman on 26 July 2010 at 11:12 said...

Ane Perokok.. 1 hari biasanya 1 bungkus...

Rasanya manusia hanya perlu menyeimbangkan tubuh mereka sendiri... yang namanya obat flu saja kalau kebanyakan juga bikin mabok... apa lagi itu bahan kimia.

mohon ijin repost di blog ku yah..

yanuar catur on 26 July 2010 at 13:19 said...

saya merokok. itu saja.

jenks on 15 September 2010 at 14:40 said...

salah satu penyesalan gw adalah melarang doi merokok d saat terakhir doi. . .padahal kurang dr setengah bungkus dalam sehari. . .

-for my beloved one. . .rest in peace huni-

Post a Comment

Thank for dropping comment here
Please do not make spam comments
Because spam comments will be removed

Blog Archive

 

Beauty Case Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting